Nama : Rani
Amalia
NPM :
201414500755
Dosen :
Mohamad Nurjaman, Mpd.
Tugas :
Resume Strategi Belajar dan Pembelajaran
I.
TEORI-TEORI
BELAJAR
Sebelum
kita membahas strategi belajar dan pembelajaran, sebaiknya kita mengetahui
terlebih dahulu teori-teori belajar. Belajar pada dasarnya memiliki pengertian
“perubahan”, dari seseorang yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari seseorang
yang sudah tahu mengembangkan pengetahuannya menjadi pengetahuan baru. Tetapi
terkadang perubahan dari proses belajar hanya terjadi sementara karena tidak
digunakan terus menerus. Di sini saya hanya akan membahasa 2 (dua) teori
belajar, yaitu:
·
Teori behavioristik, menurut teori ini
belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Belajar tidaknya seseorang tergantung pada faktor-faktor
kondisional yang diberikan. Stimulus adalah rangsangan yang diterima seseorang dan
respon adalah hasil perubahan yang terjadi setelah seseorang menerima stimulus.
Contoh:
seorang guru matematika, dengan penjelasan rumus yang jelas dan mudah dipahami
akhirnya siswa mampu mengerjakan soal saat ia ulangan.
·
Sibernetik, menurut teori belajar
sibernetik tidak ada suatu proses pun yang ideal untuk segala situasi yang
cocok untuk semua siswa. Oleh karena itu, sebuah informasi akan dipelajari
siswa dengan satu macam proses belajar, tetapi informasi yang sama tadi mungkin
akan dipelajari siswa lain dengan cara belajar yang berbeda pula.
Contotoh:
seorang siswa lebih suka menggali informasi dan mempelajarinya dari
artikel-artikel terkait, sedangkan siswa lain lebih suka menggali informasi
dari beberapa video yang tersedia seperti dari youtube.
II.
STRATEGI
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Strategi
adalah suatu susunan rencana yang dibuat oleh guru atau pengajar yang terdiri
dari metode, tujuan, bahan, alat, dan evaluasi. Pengajar harus tepat dalam pemilihan
strategi, agar tercapai pembelajaran sesuai dengan tujuan belajar dan
pembelajaran. Berikut jenis-jenis strategi:
1. Ekspositoris,
pemilihan strategi ini cocok digunakan dengan keadaan lingkungan sekolah yang
tidak memiliki akses internet, penyaluran buku sebagai bahan ajar yang kurang,
dan pengetahuan awal yang tidak dimiliki siswa. Tidak hanya faktor ekstern,
faktor intern juga sama pentingnya yaitu kemampuan guru sebagai penyampai
materi apakah dia cukup mampu dalam menyampaikan materi secara baik dan benar
sehingga mampu diterima siswa.
2. Inkuiri,
menurut saya penggunaan ini cocok pada siswa yang telah memiliki pengetahuan
awal yang cukup banyak, sehingga mereka bisa memecahkan maslah sendiri. Selain
itu wilayah yang sudah terjangkau internet dan penyaluran buku yang cukup serta
penjual buku yang mudah ditemukan. Strategi ini bermanfaat agar siswa bisa
mandiri dengan mencari bahan pelaran dari berbagai sumber sehingga tidak hanya
mengandalakan materi yang diberikan oleh guru.
3. Kontekstual,
strategi ini cocok digunakan berdasarkan tujuan pembelajaran dan pokok bahasan.
Karena strategi ini mengkaitkan pokok bahasan dengan aktivitas atau konteks
kehidupan sehari-sehari sehingga siswa lebih mudah menerima dan memahaminya.
4. Campuran,
pengajar bisa menggunakan ke 3 (tiga) strategi di atas bila semua dasar
pemilihan strategi telah dicapai dan sesuai dengan kondisi atau lingkungan
kelas.
III. HAKIKAT BELAJAR
Setelah
kita mengetahui strategi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran,
selanjtunya saya akan membahas mengenai haikat
belajar. Hakikat belajar adalah usaha yang dilaksanakan oleh guru dan siswa
setelah penetapan strategi dibuat. Pelaksanaan tersebut mngenai aturan yang
dibuat di dalam kelas yang telah di sepakati bersama oleh guru dan siswa,
kegiatan belajar mengajar, metode pembelajaran dan media pembelajaran.
·
Aturan dalam kelas, aturan yang
disepakati bersama mengenai penghargaan apa yang akan diberikan oleh pengajar
bagi siswa yang berprestasi, dan hukuman apa yang akan diberikan bagi siswa
yang terlambat, tidak mengerjakan PR, atau bahkan membuat keributan di dalam
kelas.
·
Kegiatan belajar mengajar, waktu yang
ditetapkan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar apakah akan digunakan
sepenuhnya untuk pemberian materi dari pengajar atau pemberian materi dengan
cara menampilkan video dan bisa juga dengan kegiatan belajar di luar kelas.
·
Metode pembelajaran, metode dipilih
seperti halnya faktor-faktor pemilihan stragi di atas. Pengajar bisa
menggunakan 1) metode ceramah bagi jumlah siswa yang cukup banyak 2) metode
kerja kelompok agar siswa dapat memecahkan masalah bersama meski terkadang
metode ini malah memberatkan sebagian siswa karena tidak semua anggota kelompok
berpartisipasi 3) metode karya wisata, agar murid tidak bosan dengan pemberian
materi di dalam kelas maka karya wisata bisa dimanfaatkan sebagai alternatif
lain dalam pemberian materi 4) metode studi mandiri, siswa membaca sebuah kasus
dan melakukan penelitian tanpa ada bimbingan selanjutnya penilaian dilakukan
dan guru memberika evaluasi agar penelitian yang dilakukakan siswa lebih baik
lagi 5) metode resitasi, metode ini menuntut siswa agar membuat sebuah
kesimpulannya dengan pendapatnya sendiri sehingga mendorong siswa agar kreatif.
·
Media pembelajaran, media adalah alat
yang digunakan untuk penyampaian materi agar siswa lebih cepat memahami. Media
pembelajaran diantaranya a) Teks, sebuah rangkuman materi pelajaran yang
digunakan sebagai bahan dalam penyampaian maupun untuk siswa dapat membacanya
dan mempelajarinya di rumah. b) Audio, media ini terdiri dari suara latar,
music atau rekaman suara sehingga siswa tidak bosan dengan hanya materi dalam
modul. c) Visual, terdiri dari gambar, diagram, grafik, bagan, poster sehingga
menarik perhatian siswa. Karena manusia cenderung tertarik pada media visual.
d) Proyeksi Gambar, termasuk di dalmnya film gerak, program tv, video kaset
sehingga bisa mendapat pelajaran secara nyata karena tayangan sesuai dengan
kehidupan sehari-hari.
IV. KONSEP BELAJAR
Konsep
belajar menurut saya adalah sebuah dasar penentuan atau alasan. Alasan itu yang
mendorong seseorang belajar. Konsep belajar pada dasarnya berbeda tergantung
pada usia dan kondisi fisik maupun psikis seseorang. Pada usia 0-18 tahun
alasan seseorang belajar adalah rasa ingin tahu, kebutuhan, mencapai cita-cita,
sedangkan pada usia 18> konsep selain yang di sebutkan tadi yaitu adanya
keinginan, untuk mampu berkompetensi, meningkatkan intelektual, dan
mengembangkan potensi atau bahkan hanya sekedar mengisi waktu luang.
Selanjutnya
pada penggunaan jenis belajar, seseorang yang mempunyai fisik normal cukup
berbeda dengan seseorang yang mempunyai fisik kurang normal. Pada kondisi fisik
normal jenis belajar yang bisa digunakan cukup beragam seperti belajar wawasan,
situasi, keseluruhan, tidak mempunya petunjuk belajar sebelumnya, intensional, dll. Pada fisik kurang normal
bisa menggunakan belajar laten, belajar verbal, belajar produktif, belajar
mental, belajar instrumental tetapi tidak menutup kemungkinan seseorang yang
mempunya fisik kurang normal untuk menggunakan jenis belajar seperti orang
normal lainnya maupun sebaliknya.
Sedangkan
pada penggunaan aktivitas belajar seperti mendengarkan, memandang,
meraba-mencicipi, mengamati, berfikir, menulis/mencatat, meringkas, mengingat
dan praktek bisa digunakan sesuai usia dan keinginannya sendiri. Pada keadaan
fisik tidak normal seperti sesorang yang tidak bisa melihat aktivitas belajar
yang tidak bisa dia gunakan yaitu memandang dan mengamati, sama halnya dengan
sesorang yang tidak tidak bisa mendengar aktivitas belajar yang tidak bisa dia
gunakan yaitu mendengar.
Sedangkan
konsep pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja,
bertujuan, dan terarah agar terjadi belajar pada diri seseorang. Pembelajaran
bisa dilakukan oleh siapa saja, baik itu orang tua, keluarga maupun orang yang
mampu memberikan pengajaran.
V.
PRINSIP-PRINSIP
BELAJAR
Guru
adalah tolak ukur dalam keberhasilan siswa, baik secara prestasi, pengembangan
potensi atau menumbuhkan potensi pada peserta didik serta kemampuan untuk
berkompetensi. Prinsip-prinsip yang harus dikembangkan dalam proses belajar,
yaitu:
a. Perhatian
dan motivasi, kedua hal ini sangat berkaitan. Untuk menumbuhkan perhatian maka
perlu adanya motivasi. Oleh karena itu pentingnya seorang guru untuk
menumbuhkan motivasi belajar pada siswa, bahwa belajar adalah suatu kebutuhan
yang hasilnya bisa dia pergunakan dalam hal apapun sehingga siswa akan belajar
dengan sungguh-sungguh dan tekun.
b. Keaktifan,
memberikan kesempatan pada siswa untuk berekspresi, memberikan pendapat,
menggunakan metode pembelajaran yang beragam, memberikan pujian dan tugas individu
maupun kelompok merupakan salah satu cara untuk membuat siswa aktif dalam
kelas.
c. Keterlibatan
langsung, mengajak siswa untuk ikut terlibat langsung seperti dalam hal
menyelasaikan tugas, ikut praktek dalam hal penjelasan materi, melakukan
berbagai percobaan sehingga dia ikut merasakan dan mendapatkan dampaknya.
d. Pengulangan,
ketika materi minggu lalu sudah di sampaikan maka sebaiknya pada 10 menit
pertama sebelum pembelajaran minggu selanjutnya guru menanyakan kembali
poin-poin materi minggu lalu agar siswa mengingat terus.
e. Tantangan,
untuk menuju sebuah kesuksesan banyak sekali rintangan yang harus di hadapi.
Oleh karena itu guru harus memberikan materi yang menantang agar siswa
bergairah dan mampu menghadapi tantangan yang lebih besar dimasa mendatang.
f. Balikan
dan penguatan, keterbukaan dan komunikasi yang dilakukan siswa maupun guru
sangatlah penting. Seperti dalam hal pencapaian nilai, sebaiknya di umumkan secara
terbuka agar siswa yang mendapat nilai baik bersemangat untuk terus mendapatkan
nilai yang baik, sedangkan untuk yang mendapatkan nilai tidak baik menjadikannya
motivasi supaya mendapatkan nilai yang baik seperti siswa lainnya.
g. Perbedaan
individu, setiap orang mempunyai karakter yang berbeda-beda oleh karena itu
tugas guru untuk mengetahuinya dan memilih kegiatan belajar seperti apa yang
dibutuhkan oleh setiap siswa sehingga perbedaan karakter tersebut tidak
menghambat dalam pencapaian tujuan utama belajar.
VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
HASIL BELAJAR
·
Kondisi psikologis yaitu faktor yang
terdapat pada diri seseorang, diantarnya; kecerdasan, bakat, minat, motivasi,
perhatian, kematangan, kesiapan dan sikap.
·
Kondisi fisiologis, seperti kondisi
fisik seseorang yang belajar apakah dia dalam keadaan sehat jasmani maupun
rohani atau tidak, dan kondisi panca indera (mata, hidung, telinga, dll)
·
Instrumental input, yaitu faktor eksternal
berupa guru, kurikulum yang diterapkan, sarana & fasilitas maupun program
yang disusun oleh pihak sekolah.
·
Environmental input, yaitu berkaitan
dengan lingkungan alam baik berupa suhu, cuaca, maupun udara. serta lingkungan
sosial, apakah lingkungan sosial saat dia belajar didukung oleh orang-orang
yang mampu bersosialisasi dengan baik atau justru tidak.
VII.
MASALAH-MASALAH
BELAJAR
Berikut
faktor internal masalah-masalah belajar pada siswa;
|
Sebelum belajar
|
Proses belajar
|
Sesudah belajar
|
|
Ciri Khas, minat, kecakapan,
pengalaman.
|
1. Sikap
terhadap belajar
2. Motivasi
belajar
3. Konsentrasi
belajar
4. Mengolah
bahan ajar
5. Menyimpan
perolehan hasil belajar
6. Menggali
hasil belajar yang tersimpan
7. Kemampuan
berprestasi
8. Rasa
percaya diri
9. Intelegensi
& keberhasilan belajar
10. Kebiasaan
belajar
11. Cita-cita
siswa
|
Prestasi
belajar dibidang ilmu pengetahuan, seni, moral, agama, keterampilan,
teknologi, dan olahraga bertambah baik.
|
Faktor
eksternal masalah-masalah belajar;
1. Guru
sebagai Pembina siswa belajar tidak mempunyai keterampilan yang cukup sesuai
dengan perkembangan jaman, kurangnya wibawa sehingga siswa cenderung tidak
menghargai dan tidak menjadikannya sebagai panutan, serta ketidak mampuan dalam
berkomunikasi dengan siswa untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh
siswa.
2. Sarana
& prasarana pembelajaran yang kurang mendukung dalam proses pembelajaran
diantaranya; gedung sekolah, ruang belajar, lapangan, tempat untuk kegiatan
ekstrakulikuler, buku pelajaran, dll.
3. Kebijakan
penilaian, guru cenderung lebih menilai pada hasil mata pelajaran dan tidak
memperhatian aspek penilaian lain seperti sikap dan kepribadian. Sehingga
cenderung menilai ujian akhir sebagai tolak ukur keberhasilan siswa.
4. Lingkungan
sosial siswa di sekolah, penerimaan ataupun penolakan dari teman sebaya cukup
memberikan pengaruh baik pada kejiwaan, cara dia berkomunikasi dengan teman
maupun semangat dia dalam menerima pelajaran.
5. Kurikulum,
penetapan kurikulum yang berubah-rubah setiap kali terjadinya pergantian
pemerintahan akan menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai
pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi.
Cara
untuk menentukan maslah-masalah belajar, yaitu 1) pengamatan prilaku belajar 2)
analisis hasil belajar 3) tes hasil belajar
VIII. MOTIVASI BELAJAR
Motivasi
belajar sangat dibutuhkan agar siswa mampu mencapai apa yang dia inginkan
selain usaha yang harus dia lakukan . Selain itu dia bisa mengalahkan hambatan
yang terjadi pada saat proses belajar. Motivasi dapat diberikan oleh orang tua mapun guru. Motivasi orang tua diantaranya mengontrol perkembangan
belajar anak, melakukan pembimbingan, menanamkan pemahaman agama, mengungkapkan
harapan-harapan yang realistis, dan mendukung cita-cita anak. Sedangkan
motivasi yang dapat diberikan oleh guru diantaranya penggunaan metode mengajar
yang tepat, penginformasian yang jelas mengenai tujuan belajar, melibatkan
siswa secara aktif, dan berkomunikasi dengan baik.
IX. PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM BELAJAR
1. Pendekatan
individual. Setiap siswa mempunyai kepribadian dan karakter yang berbeda-beda.
Maka perlu dilakukannya pendekatan individu agar guru mampu memahami setiap apa
yang diinginkan siswa.
2. Pendekatan
kelompok, bertujuan agar siswa mampu bersosialisasi dan membangun keakraban
dengan sebayanya atau bahkan mampu bersosialisasi di luar lingkungan sekolah.
3. Pendekatan
pembiasaan, sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus akan menyebabkan
pembiasaan. Maka jika seseorang terbiasa melakukan kebaikan hal itu bisa
menjadikan sebuah kepribadian.
4. Pendekatan
fungsional, menamkan pada diri siswa bahwa setiap pelajaran yang dia dapatkan
semuanya mempunyai fungsi.
Pendekatan
pengalaman, pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman merupakan hal yang
telah kita alami atau bahkan hanya sekedar kita lihat dari orang lain. Pengalaman
bisa dikatakan mendidik bila sesuai dengan tujuan pendidikan, karena ada
beberapa pengalaman yang bersifat tidak mendidik.